FILSAFAT ISLAM IBNU SINA DAN PEMIKIRAN
TENTANG JIWA
A. Pendahuluan
Dalam sejarah pemikiran filsafat abad pertengahan, sosok Ibnu Sina dalam banyak
hal unik, sedang diantara para filosof muslim ia tidak hanya unik, tapi juga
memperoleh penghargaan yang semakin tinggi hingga masa modern. Ia adalah satu -
satunya filosof besar Islam yang telah berhasil membangun sistem filsafat yang
lengkap dan terperinci, suatu sistem yang telah mendominasi tradisi filsafat
muslim beberapa abad.
Pengaruh ini terwujud bukan hanya karena ia memiliki sistem, tetapi karena
sistem yang ia miliki itu menampakkan keasliannya yang menunjukkan jenis jiwa
yang jenius dalam menemukan metode - metode dan alasan - alasan yang diperlukan
untuk merumuskan kembali pemikiran rasional murni dan tradisi intelektual
Hellenisme yang ia warisi dan lebih jauh lagi dalam sistem keagamaan Islam.
B. Ibnu Sina
1. Biografi dan Pendidikannya
Ibnu Sina , nama asli beliau adalah Abu Ali Hosain ibnu bdullah ibnu Sina. Di
Eropa (dunia Barat) ia lebih dikenal dengan sebutan Avicenna. Ia lahir di
sebuah desa Afsyana, di daerah dekat Bukhara pada tahun 340 H. Bertepatan
dengan tahun 980 M. Saat ia lahir kota kelahirannya sedang dalam keadaan kacau,
karena saat itu kekuasaan Abbasiyah mulai mundur dan negeri-negeri yang
mula-mula berada di bawah kekuasaannya kini mulai melepaskan diri untuk berdiri
sendiri. Kota Baghdad sebagai pusat pemerintahannya dikuasai oleh golongan Banu
Buwaih pada tahun 334 H, hingga tahun 447 H.[1]
Menurut sejarah hidup yang disusun oleh Ibnu Sina, bernama Jurjani, dari sejak
kecil Ibnu Sina telah banyak mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan yang ada di
zamannya. Ilmu-ilmu itu adalah Ilmu fisika, matematika, kedokteran, hukum dan
lain-lain. Sewaktu Ibnu Sina masih berusia 17 tahun, ia telah dikenal
sebagai dokter dan atas panggilan Istana pernah mengobati Pangeran Nuh Ibnu
Mansur sehingga pulih kembali kesehatannya. Setelah orang tua Ibnu Sina
meninggal saat ia brusia 22 tahun, ia pindah ke Jurjan, suatu kota di dekat Laut
Kaspia, dan di sanalah ia mulai menulis ensiklopedinya tentang ilmu kedokteran
yang kemudian terkenal dengan nama al-Qanun fi al-Tibb (The Qanun). Kemudian ia
pindah ke Ray, suatu kota di sebelah Teheran, dan bekerja untuk Ratu Sayyedah
dan anknya Majd al-Dawlah. Kemudian Sultan Syams al-Dawlah yang berkuasa di
Hamdan (di bahagian Barat dari Iran) mengangkat Ibnu Sina menjadi Menterinya.
Kemudian ia pindah ke Isfahan dan meninggal di tahun 1037 M, pada usia
58.[2]
Dalam pendidikannya, Ibnu Sina sangat haus dengan pendidikan, hidupnya selalu
diwarnai dengan belajar, diantara guru yang mendidiknya ialah ’Abu
Abdallah Al-Natali dan Isma’il sang Zahid. Karena kecerdasan otaknya yang
luar biasa ia dapat menguasai semua ilmu yang diajarkan kepadanya dengan
sempurna dari sang guru, bahkan melebihi pengetahuan sang guru.[3] Ibnu Sina
juga secara tidak langsung berguru kepada al-Farabi, bahkan dalam
otobiografinya disebutkan tentang utang budinya kepada guru kedua ini. Hal ini
terjadi ketika ia kesulitan untuk memahami Metafisika Aristoteles, sekalipun
telah ia baca sebanyak 40 kali dan hampir hafal diluar kepala. Akhirnya, ia
tertolong berkat bantuan risalah kecil al-Farabi.[4] Sirajuddin Zar
menambahkan, anekdot ini juga dapat diartikan bahwa Ibnu Sina adalah seorang
pewaris Filsafat Neoplatonisme Islam yang dikembangkan al-Farabi. Dengan
istilah lain, Ibnu Sina adalah pelanjut dan pengembang filsafat Yunani yang
sebelumnya telah dirintis al-Farabi dan dibukakan pintunya oleh al-Kindi.[5]
Kehebatan Ibnu sina dalam belajar bukan hanya karena ia memiliki sistem, tetapi
sistem yang is miliki menampakkan sebuah keaslian, menunjukkan jenis jiwa yang
genius dalam menemukan metode-metode dan alasan-alasan yang diperlukan untuk
merumuskan kembali pemikiran rasionalis murni dan tradisi Intelektual
Hellenisme yang ia warisi dan lebih jauh lagi dalam sistem keagamaan Islam.
Dapatlah dikemukan bahwa; keaslian yang menyebabkan dirinya disebut unik tidak
hanya terjadi di dalam Islam, tetapi juga terjadi di Abad pertengahan, karena
itu terjadi pula perumusan kembali teologi Katolik Roma yang dilakukan oleh
Albert Yang Agung, terutama oleh Thomas Aquinas yang secara mendasar
terpengaruh oleh Ibnu Sina.[6]
2. Karya-Karya Ibnu Sina
Ibnu Sina tidak hanya seorang yang mempunyai andil dalam kenegaraan tetapi ia
juga seorang agamawan. Di dalam kehidupannya selama ia menuntut ilmu, ia juga
menyibukkan dirinya untuk menulis beberapa buku. Jumlah karya tulis Ibnu Sina
diperkirakan antara 100 sampai 250 buah judul.[7]
Adapun hasil karya Ibnu Sina yang terkenal antara lain:
a. As-Syifa, buku ini adalah buku filsafat yang
terpenting dan terbesar, terdiri dari 4 bagian, yaitu logika, fisika,
matematika, dan metafisika (ketuhanan). Buku tersebut mempunyai beberapa naskah
yang tersebar diberbagai perpustakaan Barat dan Timur. Bagian Ketuhanan dan
fisika pernah di cetak dengan cetakan batu di Teheran. Pada tahun 1956, Lembaga
Keilmuan Cekoslowakia (LKC) di Praha menerbitkan pasal keenam dari buku ini
perihal ilmu jiwa, denga terjemahannya ke dalam bahasa Prancis, di bawah asuhan
Jean Pacuch. Bagian logika diterbitkan di Kairo pada tahun 1945, dengan nama Al
Burhan, di bawah asuhan Dr. Abdurrahman Badawi.
b. An-Najat, buku ini merupakan ringkasan buku yang paling
populer, yakni As-Syifa, dan pernah diterbitkan bersama-sama dengan buku
Al-Qanun dalam ilmu ketdokteran pada tahun 1593 M, di Roma dan pada tahun 1331
M, di Mesir.
c. Al-Syarat Wat-Tanbihat, buku ini adalah buku
terakhir dan yang paling baik, bahkan buku ini pernah diterbitkan di Leiden
pada tahun 1892 M. Sedangkan sebagiannya diterjemahkan ke dalam bahas Prancis,
kemudian diterbitkan lagi di Kairo pada tahun 1947 M di bawah asuhan Dr.
Sulaiman Dunya.
d. Al-Hikmat Al-Masyriqiyyah, buku ini banyak dibicarakan orang karena
tidak jelasnya maksud dan judul buku, di tambah lagi naskah-naskahnya yang
masih ada memuat bagian logika. Ada yang mengatakan bahwa isi buku tersebut
mengenai tasawuf. Tetapi menurut Carlos Nallino, berisi filsafat Timur sebagai
imbangan dari filsafat Barat.
e. Al-Qanun, atau Canon of Medicine, menurut penyebutan
orang-orang Barat. Buku ini pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan
pernah menjadi buku standard untuk Universitas Eropa, sampai akhir Abad ke 17
H. Buku tersebut pernah diterbitkan di Roma tahun 1593 M dan India tahun 1323
M.[8]
Selain itu, Ibnu Sina meninggalkan sejumlah esai dan sya’ir. Beberapa esainya
yang terpenting adalah Hayy ibn Yaqzhan, Risalah Ath-Thair, Risalah fi
Sirr Al-Qadar, Risalah fi Al-’Isyq, dan Tahshil As-Sa’adah. Sedangkan puisi
terpentingnya adalah Al-Urjuzah fi Ath-Thibb, Al-Qashidah Al-Muzdawiyyah,
dan Al-Qashidah Al-’Ainiyyah. Bahkan masih banyak karya lain lagi yang ditulis
dalam bentuk puisi ke dalam bahasa Persia.[9]
3. Pemikirannya
Dalam sejarah pemikiran filsafat abad pertengahan, sosok Ibnu Sina dalam banyak
hal unik, sedang di antara para filosof muslim ia tidak hanya unik, tapi juga
memperoleh penghargaan yang semakin tinggi hingga masa modern. Ia adalah
satu-satunya filosof besar Islam yang telah berhasil membangun sistem filsafat
yang lengkap dan terperinci, suatu sistem yang telah mendominasi tradisi
filsafat muslim beberapa abad. Pengaruh ini terwujud bukan hanya karena ia
memiliki sistem, tetapi karena sistem yang ia miliki itu menampakkan
keasliannya yang menunjukkan jenis jiwa yang jenius dalam menemukan
metode-metode dan alasan-alasan yang diperlukan untuk merumuskan kembali
pemikiran rasional murni dan tradisi intelektual Hellenisme yang ia warisi dan
lebih jauh lagi dalam sistem keagamaan Islam. Di antara filsafat Ibnu Sina,
antara lain sebagai berikut:
a. Filsafat Wujud
Mengenai Wujud Tuhan, Ibnu Sina memiliki pendapat yang berbeda dari Ibnu
Farabi. Ibnu Sina bahwa Akal Pertama mempunyai dua sifat; sifat wajib wujudnya,
sebagai pancaran dari Allah, dan sifat mungkin wujudnya jika ditinjau dari
hakekat dirinya (wajibul Wujudul Lighairi dan Mumkinul Wujudul Lidzatihi) dalam
bahasa Inggris (Necessary by virtue of the Necessary Being dan Possible in
essence). Dengan demikian ia mempunyai tiga obyek pemikiran: Tuhan, dirinya
sebagai wajib wujudnya dan dirinya sebagai mungkin wujudnya. Dari pemikiran
tentang Tuhan, timbul akal-akal, dari pemikiran tentang dirinya sebagai wajib
wujudnya timbul jiwa-jiwa dan dari pemikiran tentang dirinya sebagai mungkin
wujudnya timbul langit-langit.[10]
Walaupun Ibnu Sina memiliki pandangan yang berbeda dari akal, namun ada
pendapat Ibnu Sina yang sama dengan al-Farabi, tentang wujud Tuhan bersifat
emanasionistis. Perkataannya dari Tuhannlah Kemaujudan Yang Mesti mengalir
Inteligensi pertama, sendirian karena hanya dari yang tunggal, yang mutlak,
sesuatu dapat mewujud. Akan tetapi, sifat inteligensi pertama itu tidak
selamanya mutlak satu, karena ia bukan ada dengan sendirinya, ia hanya
mungkin, dan kemungkinannya itu diwujudkan oleh Tuhan. Berkat kedua sifat itu,
yang sejak saat itu melingkupi seluruh ciptaan di dunia, inteligensi pertama
memunculkan dua kemaujudan, yaitu: pertama, Inteligensi kedua melalui kebaikan
ego tertinggi dari adanya aktualitas. Kedua, lingkup pertama dan tertinggi
berdasarkan segi terendah dari adanya kemungkinan alamiahnya.
Dua proses pemancaran ini berjalan terus menerus sampai kita mencapai
inteligensi kesepuluh yang mengatur dunia ini, oleh sebab demikian banyak
para filsafat Muslim yang disebut ”Malaikat Jibril”. Nama ini diberikan
karena ia memberikan bentuk atau ”memberitahukan” materi dunia ini, yaitu
materi fisik dan akal manusia. Oleh karena itu, ia juga disebut ”pemberi
bentuk”.[11]
Menurut Ibnu Sina, bahwa Tuhan, dan hanya Tuhan saja yang memiliki wujud
Tunggal secara mutlak. Sedangkan segala sesuatu yang lain memiliki kodrat yang
mendua. Karena ketunggalannya, apakah Tuhan itu, dan kenyataan bahwa ia ada,
bukanlah dua unsur dalam satu wujud, tetapi satu unsur anatomik dalam wujud
yang Tunggal. Tentang apakah Tuhan itu dann hakikat Tuhan adalah identik dengan
eksistensi-Nya. Hal ini bukan merupakan kejadian bagi wujud lainnya, karena
tidak ada kejadian lain yang eksistensinya identik dengan esensinya. Dengan
kata lain, seorang suku Eskimo yang tidak pernah melihat gajah, maka ia
tergolong salah seorang yang berdasarkan kenyataan itu sendiri mengetahui bahwa
gajah itu ada. Demikian halnya, adanya Tuhan adalah satu keniscayaan, sedangkan
adanya sesuatu yang lain hanya mungkin dan diturunkan dari adanya Tuhan, dan
dugaan bahwa Tuhan itu tidak ada mengandung kontradiksi, karena dengan demikian
yang lain pun juga tidak akan ada.[12]
Ibnu Sina dalam membuktikan adanya Tuhan Yang Maha Esa, Dialah Allah, maka ia
tidak perlu mencari dalil dengan salah satu makhluknya, tetapi cukup dalil
adanya Wujud Pertama, yakni ; Wajibul Wujud. Sedangkan jagad raya ini, yakni
mumkinul wujud memerlukan sesuatu sebab (’illat) yang mengeluarkannya menjadi
wujud karena wujudnya tidak dari zatnya sendiri. Dengan demikian, dalam
menetapkan Yang Pertama (Allah, kita tidak memerlukan perenungan selain
terhadap wujud itu sendiri, tanpa memerlukan pembuktian wujud-Nya dengan salah
satu makhluk-Nya. Sebagai pembuktian dari wacana di atas, al-Qur’an menggambarkannya
dalam Surat Fushshilat ayat 53 yang berbunyi:
سَنُرِيهِمْ
آيَاتِنَا
فِي
الآفَاقِ
وَفِي
أَنْفُسِهِمْ
حَتَّى
يَتَبَيَّنَ
لَهُمْ
أَنَّهُ
الْحَقُّ
أَوَلَمْ
يَكْفِ
بِرَبِّكَ
أَنَّهُ
عَلَى
كُلِّ
شَيْءٍ
شَهِيدٌ
”Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala
wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al
Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi
atas segala sesuatu?”.
b. Filsafat Jiwa
Menurut pendapat Ibnu Sina, jiwa manusia merupakan satu unit yang tersendiri
dan mempunyai wujud terlepas dari badan. Jiwa manusia timbul dan tercipta tiap
kali ada badan yang sesuai dan dapat menerima jiwa lahir di dunia ini.
Sungguhpun jiwa manusia tidak mempunyai fungsi-fungsi fisik, dengan demikian
tidak berhajat pada badan untuk menjalankan tugasnya sebagai daya yang
berpikir, yakni jiwa yang masih berhajat pada badan.
Pendapatnya juga searah dengan Aristoteles, Ibnu Sina menekankan eratnya
hubungan antara jiwa dan raga, tetapi semua kecenderungan pemikiran Aristoteles
menolak suatu pandangan dua subtansi, dua subtansi ini di yakininya sebagai
bentuk dari dualisme radikal. Sejauhmana dua aspek doktrinnya itu bersesuaian
merupakan suatu pertanyaan yang berbeda, tentunya Ibnu Sina tidak menggunakan
dualismenya untuk mengembangkan suatu tinjauan yang sejajar dan kebetulan
tentang hubungan jiwa raga. Menurut Ibnu Sina, hal ini adalah cara pembuktian
yang lebih langsung tentang subtansialitas nonbadan, jiwa, yang berlaku bukan
sebagai argumen, tetapi sebagai pembuka mata.[13] Jiwa manusia , sebagai
jiwa-jiwa lain segala apa yang terdapat di bawah bulan, memancar dari Akal
kesepuluh.[14] Kemudian Ibnu Sina membagi jiwa dalam tiga bahagian :
i. Jiwa tumbuh-tumbuhan (an-Nafsul
Nabatiyah), yakni meliputi beberapa daya;
1. Makan (nutrition),
2. Tumbuh (Growth),
3. Berkembang biak (reproduction)
ii. Jiwa binatang (an-Nafsul Hayawaniah), yakni meliputi
bebrapa daya;
1. Gerak (locomotion),
2. Menangkap (perception).
Dua daya ini dibagi lagi menjadi dua bahagian :
a. Menangkap dari luar (al-Mudrikah minal
kharij) dengan pancaindera.
b. Menangkap dari dalam (al-Mudrikah minad
dakhil) dengan indera-indera yang meliputi : 1) Indera bersama yang menerima
segala apa yang dirangkap oleh pancaindera, 2) Representasi yang menyimpan
segala apa yang diterima oleh indera bersama, 3) Imaginasi yang menyusun
apa yang disimpan dalam representasi, 4) Estimasi yang dapat manangkap hal-hal
abstrak yang terlepas dari materinya, umpama keharusan lari bagi kambing dari
anjing srigala, 5) Rekoleksi yang menyimpan hal-hal abstrak yang diterima oleh
estimasi.
iii. Jiwa manusia (an-Nafsul Natiqah) meliputi dua daya ;
Praktis (practical) yang hubungannya
adalah dengan badan.
Teoritis (theoritical) yang
hubungannya adalah dengan hal-hal abstrak.[15]
Dengan demikian, sifat seseorang bergantung pada jiwa mana dari ketiga macam
jiea tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia yang berpengaruh pada dirinya. Jika
jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang yang berkuasa pada dirinya, maka orang itu
dapat menyerupai binatang. Tetapi jika jiwa manusia (an-Nafsul Natiqah) yang
mempunyai pengaruh atas dirinya, maka orang itu dekat menyerupai Malaikat dan
dekat pada kesempurnaan.
Ibnu Sina, meski ia seorang dokter, namun ia sadar bahwa penjelasan mengenai
jiwa bukan tugas seorang dokter dan tidak masuk dalam disiplin ilmu tersebut.
Oleh karenanya dalam al-qur’an di jelaskan beberapa pertanyaan yang berkaitan
dengan jiwa beserta berbagai potensinnya, yang mana para dokter dan filosof
berbeda pendapat dalam hal ini. Oleh sebab itu, Ibnu Sina mengatakan bahwa
maalah jiwa adalah urusan filosof. Pengaruh Ibnu Sina dalam soal kejiwaan ini
tidak dapat diremehkan, baik pada dunia pikir Arab sejak abad 10 M. Sampai
akhir abad 19 M, maupun pada filsafat scholastik Yahudi dan Masehi terutama
tokoh-tokohnya, seperti: Gundisalus, Guillaume, Albert Yong Agung, St. Thomas
Aquinas, Roger Bacon, dan Duns Scotf, serta berhubungan dengan pemikiran
Descartes tentang hakikat dan adanya jiwa.
c. Filsafat Tentang Ke-Nabian
Mengenai pemikiran Ibnu Sina tentang kenabian, ia berpendapat bahwa Nabi adalah
manusia yang paling unggul, lebih unggul dari filosof karena Nabi memiliki akal
aktual yang sempurna tanpa latihan atau studi keras, sedangkan filosof
mendapatkannya dengan usaha dan susah payah. Akal manusia terdiri empat macam
yaitu akal materil, akal intelektual, akal aktuil, dan akal mustafad.
Banyak para filosof yang membuat tingkatan akal menjadi empat bahagian, di
antaranya, Al-Farabi, Nashiruddin Ath-Tusi, dan lainnya. kalau diklasifikasikan
akal-akal tersebut seperti di bawah ini:
i. Akal Materil (al’aklul hayulaani) materil intellect
yang semata-mata mempunyai potensi untuk berpikir dan belum dilatih walaupun
sedikit.
ii. Intellectus in habitu (al’aklu bilmalakah) yang
telah mulai dilatih untuk berpikir tentang hal-hal abstrak.
iii. Akal Aktuil (al’aklu bilfiil) yang telah dapat
berpikir tentang hal-hal abstrak.
iv. Akal Mustafad (al’aklu mustafaadu) acquired
intellect) yaitu akal yang telah sanggup berpikir tentang hal-hal abstrak
dengan tidak perlu pada daya dan upaya. Akal yang telah terlatih begitu rupa,
sehingga hal-hal yang abstrak selamanya terdapat dalam akal yang serupa ini.
Akal serupa inilah yang sanggup menerima limpahan ilmu pengetahuan dari Akal
Aktif (al’aklu fa’aala).[16]
Setelah melihat penjelasan di atas mempunyai empat tingkat dan yang terendah di
antaranya ialah ada akal materil atau (al’aklul hayulan). Biasanya akal materil
tidak bisa sepenuhnya menangkap hal-hal yang abstrak, namun ketika manusia
mempergunakan akal materil ini, Allah menganugerahkan kepada manusia agar akal
materil dapat bekerja lebih besar lagi. Dalam hal ini Ibnu Sina memberi nama
al-hadas yaitu intuisi. Daya yang ada pada akal materil serupa ini begitu
besarnya, sehingga tanpa melalui latihan, dengan mudah dapat berhubungan dengan
Akal Aktif dan dengan mudah dapat menerima cahaya atau wahyu dari Tuhan.
Akhirnya aka ini menjadi tinggi, dan diperoleh bagi manusia-manusia terkhusus
pada pilihan Allah mereka yang mendapatkannya adalah para Nab-Nabi Allah.
Jadi wahyu dalam pengertian di atas yang mendorong manusia untuk beramal dan
menjadi orang baik, tidak hanya murni sebagai wawasan intelektual dan ilham
belaka. Maka tak ada agama yang hanya berdasarkan akal murni. Namun demikian,
wahyu teknis ini, dalam rangka mencapai kualitas potensi yang diperlukan, juga
tak diragukan lagi karena dalam kenyataannya wahyu tersebut tidak memberikan
kebenaran yang sebenarnya, tetapi kebenaran dalam selubung simbol-simbol. Namun
sejauh mana wahyu itu mendorong? Kecuali kalau Nabi dapat menyatakan wawasan
moralnya ke dalam tujuan-tujuan dan prinsip-prinsip moral yang memadai, dan
sebenarnya ke dalam suatu struktur sosial politik, baik wawasan maupun kekuatan
wahyu imajinatifnya tak akan banyak berfaedah. Maka dari itu, Nabi berhak
mendapat mendapatkan derajat seorang filosof.
Salah satu ungkapan Ibnu Sina tentang perihala Nabi yakni; Ada wujud yang
berdiri sendiri dan ada pula yang tidak berdiri sendiri. Yang pertama lebih
unggul daripada yang kedua. Ada bentuk dan substansi yang tidak berada dalam
meteri dan ada pula yang berada dalam materi. Yang pertama lebih unggul
daripada yang kedua, selanjutnya ada hewan yang rasional (manusia) dan ada pula
hewan yang tidak rasional (binatang). Yang pertama lebih unggul daripada yang
kedua …selanjutnya ada manusia yang memiliki akal aktual dengan sempurna secara
langsung (tanpa latihan, tanpa belajar keras) dan ada pula yang memiliki akal
aktual dengan sempurna secara tidak langsung (yakni melalui latihan dan studi),
maka yang pertama yakni para Nabi yang lebih unggul daripada yang kedua, yakni
para filsuf. Para Nabi berada di puncak keunggulan atau keutamaan dalam
lingkungan makhluk-makhluk materi. Karena yang lebih unggul harus memimpin
segenap manusia yang diunggulinya.[17]
Menurut Ibnu Sina, seorang Nabi sangat identik dengan akal aktif, dan sepanjang
identitas ini masih berlaku, akal aktif itu disebut ‘Aql Mustafad (akal yang
telah dicapai). Namun, Nabi manusia tidak identik dengan akal aktif. Dengan
demikian, pemberi wahyu dalam satu internal dengan Nabi, dalam hal lain, yaitu
sepanjang pengertian pemberi wahyu , yaitu manusia yang eksternal dengannya.
Oleh sebab itu, Nabi dalam hal sebagai manusia secara “aksidental” bukan secara
esensial, adalah akal aktif (untuk pengertian istilah “aksidental”).[18]
C. Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Ibnu Sina sependapat dengan
al-Farabi mengenai filsafat jiwanya. Ibnu Sina dapat berpendapat bahwa akal
pertama mempunyai dua sifat, yaitu: Sifat wajib wujudnya, sebagai pancaran dari
Allah dan Sifat mungkin wujudnya, jika ditinjau dari hakikat dirinya.
Sifat seseorang bergantung pada jiwa mana dari ketiga macam jiwa yaitu
tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia yang berpengaruh pada dirinya. Jika jiwa
tumbuhan atau hewan mempengaruhi seseorang maka orang itu dapat menyerupai
binatang, tetapi jika jiwa manuisa yang mempunyai pengaruh atas dirinya, maka
orang itu dekat menyerupai malaekat dan dekat dengan kesempurnaan.
Menurut Ibnu Sina bahwa alam ini diciptakan dengan jalan emanasi (memancar dari
Tuhan). Tuhan adalah wujud pertama yang immateri dan proses emanasi tersebut
memancar segala yang ada.
Tuhan adalah wajibul wujud (jika tidak ada menimbulkan mustahil), beda dengan
mumkinul wujud (jika tidak ada atau ada menimbulkan tidak mujstahil).
Pemikiran tentang kenabian menjelaskan bahwa nabi merupakan manusia yang paling
unggul dari filosof karena nabi memiliki akal aktual yang sempurna tanpa
latihan, sedangkan filosof mendapatkannya dengan usaha yang keras.